Kembali ke Kegiatan
PengajianJumat, 2 Oktober 2026
Riyadhoh Malam Jum'at PP Miftahul Amanah: Dunia Hanya Setetes Air Dibandingkan Luasnya Akhirat
Kehidupan dunia hanyalah sementara dan sangat sedikit dibandingkan kehidupan akhirat yang kekal. Rasulullah SAW mengibaratkan dunia seperti air yang menempel di jari setelah dicelupkan ke lautan. Karena itu, jangan sampai kesenangan dunia membuat kita lalai kepada Allah dan akhirat. Mari jadikan harta, waktu, dan segala yang kita miliki di dunia sebagai bekal untuk meraih kebahagiaan di akhirat.
Oleh Admin
PP Miftahul Amanah kembali menggelar kegiatan Riyadhoh Malam Jum'at pada Kamis, 1 Oktober 2026, bertepatan dengan 20 Rabiul Akhir 1448 H. Dalam kesempatan tersebut disampaikan sebuah hadis Rasulullah SAW yang mengingatkan tentang perbandingan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ أُصْبُعَهُ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ
Rasulullah SAW bersabda:
"Demi Allah, kehidupan dunia dibandingkan dengan akhirat hanyalah seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ke lautan, lalu melihat berapa banyak air yang menempel pada jarinya ketika diangkat."
Melalui perumpamaan tersebut dijelaskan bahwa air yang menempel pada jari sangat sedikit dibandingkan luasnya lautan. Begitu pula kehidupan dunia yang singkat dan terbatas, sedangkan kehidupan akhirat jauh lebih luas, abadi, dan kekal.
Dari hadis tersebut terdapat beberapa pelajaran penting. Pertama, umat Islam diingatkan agar tidak tertipu oleh gemerlap kehidupan dunia, karena harta, jabatan, rumah, kendaraan, dan berbagai kenikmatan lainnya pada akhirnya akan ditinggalkan.
Kedua, segala yang dimiliki di dunia hendaknya dijadikan bekal untuk akhirat melalui amal saleh, seperti berinfak, membantu keluarga, mendukung pendidikan, membangun masjid, pesantren, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya.
Ketiga, dunia tidak boleh sampai membuat manusia lalai kepada Allah SWT dan melupakan kehidupan akhirat. Memiliki harta bukanlah masalah, namun yang perlu diwaspadai adalah ketika kecintaan kepada dunia telah memenuhi hati dan menggeser tujuan hidup yang sebenarnya.
Keempat, akhirat harus menjadi tujuan utama dalam kehidupan, karena kehidupan dunia memiliki batas, sedangkan kehidupan akhirat bersifat kekal.
Sebagai penutup, disampaikan bahwa manusia diperbolehkan mencari kehidupan dunia, namun hendaknya dunia dijadikan sarana dan modal untuk meraih kebahagiaan di akhirat. Bahkan segala urusan dunia semestinya dapat bernilai akhirat, bukan sebaliknya, tampak seperti urusan akhirat tetapi pada kenyataannya hanya mengejar kepentingan dunia semata.